Sunday, January 10, 2010

Mengenang Djiaw Kie Siong

Kamar berdinding kayu seluas 4x10 meter itu tertata rapi. Sebuah tempat tidur besar, lengkap dengan tirai putihnya --senada dengan warna dinding-- berada di sudut kamar. Persis di depan pintu, terdapat sebuah meja dan kursi kayu. Semua perkakas itu terlihat bersih. Sama sekali tak berdebu.

Kebersihan kamar ini memang sangat dijaga. Meski dibersihkan setiap hari, namun tak satupun keluarga Djiaw Kie Siong berani tidur di dalamnya. Kamar dibiarkan kosong dengan pintu terkunci. Baru dibuka, kalau akan dibersihkan atau saat ada tamu berkunjung. "Kakek berpesan supaya kamar tidak ditempati," tutur Djiaw Kim Mong, 57 tahun, cucu Djiaw Kie Siong kepada penulis.

Kamar ini bersejarah, karena menjadi tempat peristirahatan Bung Karno bersama istri dan anaknya (Fatmawati dan Guntur Soekarnoputra) saat diculik kelompok pemuda 65 tahun silam. Kamar ini berada di bagian kanan rumah bergaya limas seluas 14x20 meter di Dusun Bojong, Desa Rengasdengklok, Karawang.

Selain Bung Karno, para pemuda juga menculik Bung Hatta. Kamar istirahat untuk Bung Hatta berseberangan dengan kamar Bung Karno, atau tepatnya di sebelah kiri. Tempat tidurnya lebih sederhana, tanpa tirai. Tapi kondisinya juga terawat.

Para pemuda yang terdiri dari Adam Malik dan Chaerul Saleh menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke rumah Djiaw pada 16 Agustus 1945 sekitar pukul 04.30. Penculikan ini untuk mendesak Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan RI setelah kekalahan Jepang kepada sekutu.

Seluruh perkakas di kedua kamar itu sebenarnya hanyalah replika. Perkakas aslinya sudah diamankan ke Museum Sri Baduga Maharaja di Bandung. 

Selain perkakas, menurut Djiaw Kim Mong, rumah yang menjadi situs sejarah ini tidak terletak seperti dulu. Saat peristiwa penculikan Soekarno-Hatta, letak rumah berada di 100 meter dari rumah saat ini. Rumah Djiaw dipindahkan atas perintah Soekarno karena terkena banjir dari Kali Citarum.

Rumah Djiaw Kie Siong menjadi bagian penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Di rumah ini pula naskah proklamasi dipersiapkan. Rencananya, proklamasi akan dikumandangkan di Rengasdengklok. 

Buku Her Suganda berjudul Rengasdengklok Revolusi dan Peristiwa 16 Agustus 1945 (2009) menuliskan, bersamaan dengan penculikan itu, di halaman pendopo kawedanan berlangsung upacara penurunan Bendera Jepang Hinamaru, yang diikuti pengibaran Sang Saka Merah Putih. Inilah untuk pertama kali Merah Putih berkibar. Peristiwa itu dilanjutkan dengan pernyataan kemerdekaan oleh camat setempat.

Rencana pembacaan teks Proklamasi kemudian urung, karena pada sore harinya Ahmad Subardjo dari golongan tua datang menjemput Bung Karno dan Bung Hatta. Subardjo mengajak keduanya memproklamirkan kemerdekaan RI di Jalan Pegangsaan Timur No 56, Jakarta.

##

Djiaw Kie Siong adalah seorang petani kecil di Rengasdengklok, keturunan Tionghoa. Lahir sekitar tahun 1881. Menurut Djiaw Kim Mong, salah satu cucunya, Djiaw jauh dari kegiatan politik. Sehari-hari mengurus sawah yang terletak tak jauh dari Kali Citarum untuk menghidupi sembilan anak-anaknya.

Sebelum berpindah 100 meter di lokasi sekarang, rumah Djiaw bersebelahan dengan markas PETA (saat ini menjadi Monumen Kebulatan Tekad Rengasdengklok). Inilah yang membuat Djiaw kemudian mengenal sejumlah aktivis PETA. Saat muncul rencana penculikan terhadap Soekarno-Hatta, aktivis PETA kemudian memilih rumah Djiaw karena dianggap paling aman.

Djiaw kemudian rela memboyong anak-anaknya sementara waktu ke rumah tetangga, yang letaknya berdampingan dengan rumah baru barunya sekarang. Rumah sementara keluarga Djiaw ini masih berdiri hingga sekarang.

Djiaw bukan hanya seorang keturunan Tionghoa yang peduli terhadap Kemerdekaan Indonesia. Selepas Bung Karno-Bung Hatta meninggalkan rumahnya, ia tetap peduli pada sejarah bangsanya. Ia berpesan pada anak dan cucunya, untuk tetap merawat bagian depan rumahnya, termasuk dua kamar yang ditinggali Bung Karno dan Bung Hatta. Tujuannya, supaya generasi berikutnya dapat melihat bukti-bukti perjuangan para pendahulunya. 

Keluarga Djiaw kemudian melengkapi rumah itu dengan memajang puluhan foto sejarah perjuangan bangsa Indonesia, termasuk sebuah foto Djiaw di tengah-tengahnya. Foto-foto ini ditata sedemikian rupa di ruangan tengah, berdampingan dengan tempat persembahyangan untuk menghormati Djiaw.

Peranan Djiaw Kie Siong yang meninggal tahun 1964 dalam usia 83 tahun bagi kemerdekaan bangsa ini tak perlu diragukan lagi. Namun namanya luput dari pelajaran sejarah kita. Jasanya hampir tak pernah disebut. Karena itu jangan terkejut ketika pertama kali mengunjungi rumah Djiaw yang kini ditinggali cucunya yang lain, Tjia Tjen Nio. Tak ada papan informasi atau penunjuk lain kalau rumah ini adalah situs sejarah. IKA NINGTYAS

Foto-foto selengkapnya di: https://www.facebook.com/notes/ika-ningtyas/djiaw-kie-siong/286480357385