Friday, October 1, 2010

Tradisi Mocoan Lontar Telah Terwarisi.....


Dua puluh enam lelaki itu duduk bersila. Mereka memakai baju koko, sarung, dan kopyah. Lelaki yang lebih muda berpakaian koko warna kuning cerah, sedangkan warna putih dipakai mereka yang berusia tua.

Tepat jam 8 malam, mereka mulai menembangkan bait-bait Lontar Yusuf secara bergantiaan. Di depan mereka sebuah kitab bertuliskan huruf arab dengan bahasa Jawa kuno. Mereka menembangkan dengan cengkok khas Using, Banyuwangi. Para lelaki itu harus menyelesaikan seluruh tembang hingga menjelang fajar.

Thursday, August 12, 2010

Kisah Prajurit dari Timur...


Sorot ketiga pasang mata itu sangat tajam. Paras wajahnya menunjukkan watak keras. Dua diantaranya nampak masih berusia muda. Memakai ikat kepala layaknya seorang ksatria.

Itulah sketsa wajah tiga prajurit Blambangan: Wong Agung Wilis, Rempeg Jagapati, dan Sayu Wiwit yang digambar oleh pelukis Banyuwangi, Kojeng, 2007 lalu. Sketsa wajah yang disimpan di Museum Blambangan, Jalan Ahmad Yani, Banyuwangi itu dibuat, saat Tim Pengajuaan Pahlawan Nasional Blambangan mengusulkan ketiga prajurit itu sebagai pahlawan nasional ke Pemerintah Pusat.

Damarwulan-Menakjingga: Legenda atau Sejarah?


Patung setinggi tiga meter itu berdiri di depan Jalan Penataran, Kelurahan Penganjuran, kota Banyuwangi. Patung seorang laki-laki berpakaian raja. Tangan kanannya membawa senjata gondo wesi kuning. Dia didampingi Dayun, seorang pengikut setianya.

Patung yang dibuat Pemerintah Banyuwangi sekitar tahun 1997 itu merupakan patung Menakjingga. Budayawan sekaligus seniman Janger, M.Dasuki Noer, mengatakan, pembuatan patung itu untuk mempopulerkan kepahlawanan Menakjingga yang selama ini seolah-olah kalah oleh pamor Damarwulan. “Selama ini Damarwulan selalu dipuja-puja,” tutur Dasuki kepada TEMPO, akhir Juli lalu.

Riwayat Blambangan yang Terlupakan


Reruntuhan bangunan setinggi satu meter itu terlihat jelas begitu tanah di areal persawahan digali. Terbuat dari batu bata, dengan struktur rapat tanpa spasi. Satu batu bata memiliki ukuran tiga kali lebih besar dari batu bata yang dipakai orang sekarang.

Reruntuhan bangunan itu salah satu temuan, dalam survei awal Situs Macan Putih yang dipelopori Arkeolog Universitas Gajah Mada Profesor Inajati, Sejarawan UGM Sri Margana, dan Forum Masyarakat Penyelamat Sejarah Macan Putih, awal Juli lalu. Forum Masyarakat mempercayai bekas bangunan itu merupakan benteng timur ketika pusat Kerajaan Blambangan dibangun di Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat, Banyuwangi.

Monday, May 31, 2010

Menjejaki Sejarah Keagungan Kerajaan Blambangan


JARUM jam di tanganku menunjukkan angka sembilan pagi. Tanah di Desa Macan Putih, Kecamatan Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi, masih basah setelah diguyur hujan sejak subuh. Laju bus yang membawa rombonganku beranggotakan 40 orang berjalan lambat menyusuri jalanan desa yang sempit. Dari kaca jendela bus, saya bisa memandang hamparan sawah di kanan dan kiri jalan.

Saat itu, pertengahan Mei lalu, saya memulai perjalanan menyusuri jejak Kerajaan Blambangan. Awal penjejakan memang dimulai dari Desa Macan Putih, sekitar 10 kilometer dari Kota Banyuwangi.

Tuesday, April 6, 2010

Budidaya Lele Organik Nan Gurih


Teletong alias kotoran sapi rupanya tak hanya bermanfaat untuk pupuk organik. Di Banyuwangi, Jawa Timur, kotoran sapi saat ini juga populer untuk budidaya lele organik. Tak perlu beli pakan, hasil panen ternyata lebih gurih.

Abdul Kohar, 48, salah satu petani Banyuwangi yang ikut mengembangkan budidaya lele organik mengatakan bahwa konsep budidaya lele organik mengadopsi pola hidup lele di alam bebas, dimana media hidup dan pakannya berasal dari bahan organik.


Budidaya Lele Organik Nan Gurih


Teletong alias kotoran sapi rupanya tak hanya bermanfaat untuk pupuk organik. Di Banyuwangi, Jawa Timur, kotoran sapi saat ini juga populer untuk budidaya lele organik. Tak perlu beli pakan, hasil panen ternyata lebih gurih.

Abdul Kohar, 48, salah satu petani Banyuwangi yang ikut mengembangkan budidaya lele organik mengatakan bahwa konsep budidaya lele organik mengadopsi pola hidup lele di alam bebas, dimana media hidup dan pakannya berasal dari bahan organik.


Sunday, January 10, 2010

Mengenang Djiaw Kie Siong

Kamar berdinding kayu seluas 4x10 meter itu tertata rapi. Sebuah tempat tidur besar, lengkap dengan tirai putihnya --senada dengan warna dinding-- berada di sudut kamar. Persis di depan pintu, terdapat sebuah meja dan kursi kayu. Semua perkakas itu terlihat bersih. Sama sekali tak berdebu.

Kebersihan kamar ini memang sangat dijaga. Meski dibersihkan setiap hari, namun tak satupun keluarga Djiaw Kie Siong berani tidur di dalamnya. Kamar dibiarkan kosong dengan pintu terkunci. Baru dibuka, kalau akan dibersihkan atau saat ada tamu berkunjung. "Kakek berpesan supaya kamar tidak ditempati," tutur Djiaw Kim Mong, 57 tahun, cucu Djiaw Kie Siong kepada penulis.