Thursday, December 31, 2009

Musdah Mulia: Saya Tidak Peduli Dianggap Sesat


Pada 27 November lalu, Prof. Dr. Siti Musdah Mulia meraih penghargaan sebagai "Women of the Year 2009" dari Pemerintah Italia. Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah ini menyisihkan dua finalis lain dari Maroko, Aiche Ech Channa dan dari Afganistan, Mary Akrami. Ketiga finalis terpilih melalui seleksi ketat atas 36 calon dari 27 negara.

Perempuan yang tahun lalu juga mendapat penghargaan Yap Thiam Hien ini, dinilai sebagai tokoh perempuan yang telah memberikan sumbangan nyata pada upaya pemberdayaan perempuan. Di Tanah Air sendiri, Ia dikenal sebagai perempuan yang yang gigih bersuara dan memperjuangkan kesetaraan jender, membela hak-hak kelompok minoritas, serta melakukan dialog antaragama. Suaranya yang lantang tersebut kerap menimbulkan kontroversi.
  (Musdah Mulia/Komnasperempuan.com)

Wednesday, August 12, 2009

Persinggahan Sebelum Menuju Kawah


Dua jam perjalanan yang melelahkan menyusuri lereng pegunungan Ijen, terbayar begitu menginjak kaki di penghujung Perkebunan Jampit, Kecamatan Sempol,Bondowoso. Aku disambut sebuah rumah kuno dua lantai berasitektur Belanda yang dinamai Guest House Jampit. Atap tinggi lengkap dengan cerobong asap untuk perapian. Dindingnya masih terbuat dari kayu bercat coklat. Jendela-jendela besar bertirai putih.

Ketika jendela ku buka, mata langsung dimanjakan dengan bunga-bunga khas Eropa yang sedang bermekaran, beraneka warna. Tertata apik di taman seluas dua hektar yang mengelilingi Guest House. Bunga Hidrangea dan Petonia yang berwarna biru. Anyelir ungu. Anemone merah dan kuning. Lely putih. Serta bunga-bunga aqapanthus dan antirrhinum. Semakin sempurna dengan pohon-pohon pinus yang berjejer di tepi taman, menjulang setinggi 30 meter. Aku cukup beruntung mengunjungi Jampit di saat musim bunga sedang mekar. Kita seperti diajak mengunjungi pedalaman Eropa di musim kemarau.

Thursday, August 6, 2009

Temu Misti, Penari Gandrung yang Terpinggirkan


Rumah itu berukuran 6×7 meter. Cat putih di dindingnya mulai lusuh. Lantai semennya penuh lubang. Plafon bambu di atap rumah, mulai tercabik di sana-sini. Perabotan di dalam rumah tak ada yang mewah. Hanya empat kursi kayu kusam berjejer di ruang tamu. Di belakangnya, terdapat dua lemari kuno yang berdirinya mulai miring. Hanya teve i4 inch dan VCD Player yang menjadi barang berharga, menghiasi di pojok ruangan.

Di rumah yang terlampau sederhana itulah, lahir dan tumbuh seorang penari dan penyanyi Gandrung Banyuwangi, Temu Misti. Di usianya yang beranjak senja, 55 tahun, perempuan setinggi 165 cm berperawakan kurus ini, menjadikan gandrung adalah bagian tak terpisahkan dari hidupnya.

Wednesday, April 1, 2009

Saat Jurnalis Jadi Tukang Bor


Eko Budi Setianto tengah asyik nonton sinetron bersama istri dan tiga anaknya saat telepon selulernya berkedip-kedip. Nama bos muncul di layar. Mau tak mau ia harus menjawab. Lelaki 46 tahun itu kemudian beranjak dari kursi ke halaman rumah menghindari suara televisi yang ribut.

“Tolong berita tambang emasnya diblow up lagi lebih keras. PT Indo tidak konsisten,” kata Budi menirukan perintah penelpon yang tak lain Pimpinan Redaksi Surabaya Pagi, Gatot Bibit Bibiyono. Budi hanya menjawab, “Oke, Pak. Saya usahakan,”