Kamis, Oktober 15, 2009

Sebanyak 300 Lumbung Padi Akan Dibangun

BANYUWANGI -- Kabupaten Banyuwangi menarget akan membangun 300 lumbung padi secara bertahap. Kepala Seksi Pengkajian dan Distribusi Pangan Kantor Ketahanan Pangan Banyuwangi Soebandi mengatakan, sejak 2006-2009 sudah 24 lumbung padi yang didirikan.

Dua puluh empat lumbung padi itu berada di enam kecamatan yang menjadi sentra penghasil padi meliputi Kecamatan Pesanggaran, Tegalsari, Gambiran, Bangorejo, Purwoharjo, Siliragung, Cluring dan Tegaldlimo.

Menurut Soebandi, pendirian lumbung padi tersebut untuk mengamankan cadangan padi bila sewaktu-waktu panen padi mengalami paceklik. "Sekaligus untuk memastikan stok pangan kita aman," katanya kepada Tempo, Rabu (14/10).

Jumlah panen padi di Kabupaten Banyuwangi setiap tahunnya rata-rata mencapai 700 ribu ton. Dari jumlah tersebut stok cadangan sebanyak 166 ribu ton, setelah dikurangi jumlah konsumsi lokal sebesar 300 ribu ton, bulog, dan dikirim ke luar kabupaten.

Hanya saja, stok cadangan padi tersebut tersimpan di lumbung-lumbung milik petani sehingga jumlahnya tak bisa dipastikan. Karena itu, kata Soebandi, untuk memastikan cadangan pangan aman maka Pemkab harus memiliki lumbung padi sendiri untuk menjamin ketersediaan padi minimal 30 ribu ton. IKA NINGTYAS

PGRI Minta Gubernur Jatim Turun Tangan

BANYUWANGI -- Rencana aksi solidaritas Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) se-Jawa Timur batal dilakukan Rabu besok (14/10). PGRI Jatim memberi waktu kepada Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk mencabut sanksi sembilan pegawai negeri sipil hingga 21 Oktober mendatang. "Rencana aksi kami agendakan 29 Oktober," kata Ketua PGRI Jawa Timur yang baru terpilih Ichwan Sumadi saat dihubungi Tempo, Selasa (13/10).

Menurut Ichwan hal itu merupakan rekomendasi dari Konferensi PGRI Jatim di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, yang berakhir hari ini. PGRI Jatim juga telah membentuk tim untuk menyelesaikan perkara tersebut.

Tim dalam waktu dekat berencana akan bertemu dengan Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Agendanya, meminta supaya Pemerintah provinsi turun tangan menyelesaikan persoalan PGRI Banyuwangi. Berikutnya, tim juga akan bertemu dengan Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari.

Ichwan mengatakan, persoalan ini diambil alih PGRI Jawa Timur karena termasuk pelecehan terhadap guru dan PGRI sebagai organisasi guru yang dilindungi undang-undang. "Bahaya kalau demo saja sampai kena sanksi," kata dia.

PGRI, kata dia, tidak akan menempuh jalur gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara karena biasanya hanya akan memenangkan pihak Pemerintah.

Sebelumnya dalam aksi unjuk rasa 7 Oktober lalu, PGRI Jatim memberi batas waktu Pemkab hingga 13 Oktober untuk memenuhi delapan tuntutan guru, terdiri atas tujuh point peningkatan kesejahteraan dan pencabutan sanksi. Namun hingga batas waktu hari ini, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi tidak memenuhi aspirasi guru.

Sama dengan jawaban Sekretaris Kabupaten Sukandi sebelumnya, Bupati Ratna Ani Lestari mengatakan, tidak penuhi tuntutan guru karena keuangan Pemkab terbatas. Sedangkan untuk tuntutan pencabutan sanksi, dia mengatakan "Silahkan ajukan gugatan ke PTUN," katanya. IKA NINGTYAS

Jenasah Suprihatin Tiba di Banyuwangi

BANYUWANGI -- Jenasah Suprihatin, 35 tahun, tenaga kerja wanita asal Banyuwangi yang tewas di Taiwan, akhirnya tiba di rumah keluarganya Senin (12/10) petang. Diduga kuat, Suprihatin tewas dibunuh oleh teman sekerjanya.

Jenasah korban disambut tangis oleh keluarganya ketika sampai di rumah keluarganya Dusun Umbulrejo, Desa Bagorejo, Kecamatan Srono. Ia meninggalkan seorang suami dan dua orang anak. Menurut Sohibullah, suami korban, ia berusaha tabah menerima kematiaan istrinya. "Meski begitu saya berharap orang yang membunuh istri saya mendapat hukuman setimpal," kata dia.

Suprihatin tewas pada 31 Juli 2009. Sebelumnya ia dikabarkan tewas karena kecelakaan lalu lintas. Jenasahnya terkatung-katung di rumah sakit Taiwan, Wei Gong Hospital, karena pihak keluarga terkendala dana untuk memulangkan jenasah yang membutuhkan biaya sekitar Rp 90 juta.

Jenasah akhirnya bisa dipulangkan berkat bantuan dari Serikat Buruh Migran Indonesia dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Jawa Timur.

Kordinator Advokasi Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Banyuwangi Sugito, mengatakan, sesuai penelusuran SBMI ditengarai korban dibunuh oleh Prong Prom Tanik, teman seprofesi korban, berkewarganegaraan Thailand. Sebelum dibunuh, kata dia, korban dan pelaku terlibat pertengkaran hebat.

Indikasi pembunuhan itu diperkuat dengan hasil otopsi Wei Gong Hospital, yang menunjukkan adanya luka parah di bagian kepala akibat pukulan benda tumpul. Kasus tersebut kini sudah memasuki tahap persidangan. Namun menurut Gito, belum terungkap jelas apa yang menjadi latar belakang pembunuhan itu.

Suprihatin bekerja di Taiwan melalui PT Sekartanjung, Bekasi, pada 2005. Hampir dua tahun bekerja, Suprihatin sempat kabur dari rumah majikan, karena majikannya dinilai terlalu cerewet. Setelah itu, Suprihatin bekerja di majikan lain. Sohibullah melakukan kontak terakhir kali dengan istrinya, satu hari sebelum Suprihatin tewas.

Rencananya korban akan dimakamkan pada Selasa besok (13/10) sekitar jam 07.00. IKA NINGTYAS

Perusahaan Penggilingan Padi Menunggak Utang

BANYUWANGI -- Sebanyak 14 perusahaan penggilingan padi menunggak pengembalian pinjaman dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sebesar total Rp 1,016 miliar. Perusahaan yang menunggak berasal dari alokasi pinjaman tahun 2003, 2004 dan 2005.

Kepala Kantor Ketahanan Pangan Banyuwangi Abdul Rahman mengatakan, untuk alokasi pinjaman 2003 terdapat 5 perusahaan yang menunggak sebesar total Rp 374.259.000. Tahun 2004, sebanyak enam perusahaan dengan besar tunggakan mencapai Rp 505.500.000.

Sedangkan tahun 2005 terdapat tiga perusahaan dengan total tunggakan Rp 137 juta. "Besarnya tunggakan masing-masing perusahaan variatif, nilainya puluhan juta," katanya, Senin (12/10).

Dari alokasi selama tiga tahun itu, hanya tahun 2005 yang mencantukan denda di dalam aturan perjanjian pinjaman. Nilainya dihitung per hari sejak batas jatuh tempo, sebesar satu per mil dari pinjaman pokoknya.

Menurut Rahman, ia masih melakukan cara persuasif dengan melakukan penagihan tertulis kepada masing-masing pengusaha. Penagihan terakhir telah dilayangkan September lalu. Dari 14 penunggak itu, kata Rahman, satu pengusaha bernama Sri Wahyuni dari UD Tekad, Kecamatan Kabat, melarikan diri. Namun Kantor Ketahanan Pangan belum melaporkan hal tersebut ke Kepolisian. "Mereka menunggak, karena sebagian besar mulai kolaps," katanya.

Pinjaman kepada perusahaan penggilingan padi itu diberikan untuk menstabilkan harga gabah di tingkat petani. Pinjaman harus dikembalikan dalam jangka waktu setahun setelah dana dicairkan. Namun karena besarnya nilai tunggakan, Pemkab memutuskan sejak 2008 tidak lagi mengalokasikan pinjaman kepada perusahaan penggilingan padi. IKA NINGTYAS

Bantuan Parpol Ditentukan dari Perolehan Suara

BANYUWANGI -- Pemerintah Kabupaten Banyuwangi tahun ini akan memberikan anggaran Rp 900 juta kepada partai politik yang punya kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Banyuwangi. Pencairan dana tersebut akan diberikan untuk partai periode 2004-2009 dan periode 2009-2014.

Menurut Kepala Kantor Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Abdullah, bantuan lima partai periode 2004-2009 dialokasikan untuk delapan bulan, mulai Januari-Agustus. Sedangkan periode berikutnya dialokasikan untuk empat bulan, September-Desember. "Karena periode yang lama berakhir pada Agustus lalu," kata Abdullah kepada Tempo, Minggu (11/10).

Bantuan parpol untuk periode 2004-2009 masih mengacu Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 25/2006, dimana besarnya bantuan ditentukan per kursi sebesar Rp 20 juta. Besarnya bantuan untuk masing-masing parpol, adalah Partai Kebangkitan Bangsa sebesar Rp 213,3 juta, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Rp 159,9 juta, Golkar Rp 106,6 juta, Demokrat Rp 66,6 juta dan Partai Persatuan Pembangunan Rp 53,3 juta.

Sedangkan bantuan untuk parpol yang punya kursi di dewan periode 2009-2014 mengacu Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 24/2009. Dalam aturan ini, bantuan parpol ditentukan oleh banyaknya perolehan suara.

Menurut Abdullah, pada periode baru ini terdapat 10 partai yang mendapat jatah. Yakni, PDIP, Demokrat, Golkar, PKB, PKNU, Gerindra, PPP, Hanura, PAN dan Republikan.

Bantuan terbanyak diperoleh PDIP yakni sebesar Rp 57,889 juta karena memperoleh 145.358 suara. Berikutnya, Demokrat Rp 44,652 juta; Golkar Rp 33.069 juta; PKB Rp 29,406 juta dan PKNU sebesar Rp 17,3 juta. IKA NINGTYAS

Sabtu, Oktober 10, 2009

Persinggahan Sebelum ke Kawah Ijen

Dua jam perjalanan yang melelahkan menyusuri lereng pegunungan Ijen, terbayar begitu menginjak kaki di penghujung Perkebunan Jampit, Kecamatan Sempol,Bondowoso. Aku disambut sebuah rumah kuno dua lantai berasitektur Belanda yang dinamai Guest House Jampit. Atap tinggi lengkap dengan cerobong asap untuk perapian. Dindingnya masih terbuat dari kayu bercat coklat. Jendela-jendela besar bertirai putih.



Ketika jendela ku buka, mata langsung dimanjakan dengan bunga-bunga khas Eropa yang sedang bermekaran, beraneka warna. Tertata apik di taman seluas dua hektar yang mengelilingi Guest House. Bunga Hidrangea dan Petonia yang berwarna biru. Anyelir ungu. Anemone merah dan kuning. Lely putih. Serta bunga-bunga aqapanthus dan antirrhinum. Semakin sempurna dengan pohon-pohon pinus yang berjejer di tepi taman, menjulang setinggi 30 meter. Aku cukup beruntung mengunjungi Jampit di saat musim bunga sedang mekar. Kita seperti diajak mengunjungi pedalaman Eropa di musim kemarau.

Berbagai tanaman itu tumbuh dengan baik di Perkebunan Jampit, karena memiliki ketinggian 1.100-1.600 dari permukaan laut. Perkebunan ini dikelilingi Gunung Ijen, Gunung Raung, Gunung Kempit dan Gunung Penataran. Bila siang hari suhunya sekitar 18 derajat celcius, kemudian akan melorot lagi hingga 10 derajat celcius di malam hari. Cukup nikmat rasanya menikmati pemadangan alam dengan hawa sejuknya itu, sambil menyeruput kopi Arabika yang terhidang di meja tamu.

Tempat ini bisa ditempuh melalui Bondowoso, Situbondo, maupun Banyuwangi yang menuju jalur ke Kawah Ijen. Dari Kota Bondowoso, jaraknya sekitar 58 KM. Sedangkan dari Banyuwangi menempuh jarak sekitar 52 KM. Tanaman kopi Arabika akan menyambut sepanjang perjalanan kita menuju Jampit. Dari total luas perkebunan 3104,41 ha, komoditi kopi Arabika seluas 1252,27 ha dengan jumlah produksi sekitar 889,196 ton tiap tahun.





Arabika adalah komoditi utama Perkebunan Jampit dibawah PT Perkebunan Nusantara XII ini. Namun PTPN XII baru mengelola seluruh potensi agrowisatanya secara serius pada 2001. Pada tahun itu Jampit mulai disewakan sebagai penginapan. “Sebelumnya, Guest House hanya difungsikan untuk kegiatan dinas PTPN,” tutur Sulistyani, Pelaksana Agrowisata PTPN XII, Minggu (8/8). Di Guest House terdapat lima kamar dan ruang lobby yang dilengkapi televisi. Tempat ini disewakan satu paket seharga Rp 2 juta per malam.

Di belakang Guest House, terdapat Pondok Wisata Jampit yang juga disewakan untuk pengunjung. Bangunan peninggalan Belanda, yang hingga kini masih dipertahankan. Di sini tersedia 25 kasur plus enam kamar. Pengunjung didominasi dari Perancis, Belanda, Belgia, Amerika, dan Korea. Para turis biasa menginap di Jampit sebelum memulai perjalanan mendaki kawah Ijen. Sedangkan bagi wisatawan local, Jampit sangat popular sebagai tempat menggelar outbond.

Selama menunggu perjalanan ke kawah, pengunjung dapat menikmati paket wisata melihat panen buah stroberi dan pengolahan kopi Arabika. Dua paket wisata terakhir ini berada di Perkebunan Kalisat atau biasa disebut Jampit Dua, 14 KM dari Jampit Satu. Dari ketinggian Arabika Homestay di Jampit dua, kita bisa menikmati hamparan kebun stroberi seluas satu hektar, yang dikelilingi kebun kopi. Kebun Stroberi panen dua kali seminggu, yang rata-rata menghasilkan dua kuintal buah stroberi merah dan segar. Selain dikonsumsi sendiri, stroberi dijual ke Surabaya dan Bali.

Pilihan menginap selain Perkebunan Jampit, berada di Perkebunan Blawan, sekitar delapan kilometer dari Jampit dua. Perkebunan Blawan seluas 5521,45 ha juga menyediakan penginapan rumah bekas Belanda bernama Catimor Homestay Blawan. Catimor yang memiliki 30 kamar, dibangun pada 1894 oleh Sinder Degener. Sebagian besar bangunannya masih dipertahankan, seperti dinding dari bambu. Kecuali bagian lantai yang dirombak dari kayu menjadi tegel berwarna coklat.

Namun pemandangan taman di Catimor tidak secantik di Jampit. Catimor lebih menjual suasana rumah yang sepi tanpa hiruk pikuk televisi. Fasilitas modern hanyalah air panas yang terpasang di kamar mandi, sebagai pengusir dingin. Di sekitar Catimor, pengunjung bisa menikmati kebun stroberi, sayur-mayur, dan pabrik pengolahan kopi Arabika. Setiap datang, tamu dipersilakan menikmati secangkir kopi Arabika yang bisa dibikin sendiri di depan ruang resepsionis.

Tamu yang sebagian besar adalah turis, kebanyakan dibawa oleh travel-travel agen dari Probolinggo yang melayani paket wisata pendakian di Gunung Bromo dan Kawah Ijen. Mereka biasa menginap selama sehari saja. Menurut salah seorang guide dari Cakrawala Travel Probolinggo, yang membawa 13 turis dari Australia, mereka tiba di Blawan pada Sabtu pagi hari (7/8). Beristirahat penuh seharian, mengumpulkan tenaga sebelum memulai pendakian. Mereka mulai meninggalkan Catimor keesokan harinya pada jam empat subuh menuju kawah Ijen. Setelah mendaki, turis langsung bertolak ke Bali dengan melewati jalur Banyuwangi.

Franco, 48, salah satu wisatawan asal Italy mengatakan tidak sempat berkeliling ke tempat wisata sekitar Blawan karena waktu menginapnya hanya sehari. Namun ia cukup menikmati selama menginap di Catimor. “Pemandangan alamnya sangat indah,” kata karyawan perusahaan tekstil yang mendapat jatah berlibur selama sebulan ini.

Juni hingga Agustus adalah puncak kunjungan turis ke Kawah Ijen. Jumlahnya lebih dari seratus orang tiap hari. Karena itu tingkat hunian tiga penginapan di Jampit dan Blawan selalu penuh terisi. Sayangnya potensi ini belum diimbangi akses jalan yang memadai. Tantangan terberat menuju kedua perkebunan itu adalah menaklukan jalan. Baik ditempuh dari Banyuwangi maupun Bondowoso, kualitas jalannya sama-sama rusak berat. Bila Anda sedang membawa kendaraan yang mesinnya kurang prima, aku tak yakin Anda akan bisa menaklukan seluruh jalan dengan lancar. IKA NINGTYAS



Kisah Tentang Damarwulan

Tak jauh dari Catimor Homestay Blawan, sedikitnya terdapat empat wisata alam yang menarik dikunjungi. Yakni, air terjun Blawan, kolam Damarwulan, pemandian air hangat, dan gua kapur.



Air terjun Blawan terletak satu kilometer dari Catimor. Bedanya dengan air terjun lain, air terjun Damarwulan setinggi 30 meter berwarna kekuningan. Warna kuning sesungguhnya adalah kandungan belerang yang mengalir dari mata air belerang dari gunung Ijen. Air terjun itu mengebulkan uap di antara bukit-bukit hijau yang mengelilingi lokasi.

Dari air terjun kita bisa menuju pemandian air hangat, jaraknya sekitar 100 meter. Dua kolam yang hangatnya sekitar 50 derajat celcius, merupakan campuran antara air dengan belerang. Menurut Sirianto, 64, petugas jaga, air campuran belerang itu bisa menyembuhkan linu dan reumatik. Tiket masuknya Rp 2 ribu per orang. Sayang tempatnya mulai tak terurus sehingga terkesan kotor dan penuh lumut.

Empat tempat wisata di Desa Kalianyar itu dipercaya masyarakat sebagai tempat perlindungan Damarwulan, seorang mahapatih Majapahit saat berperang melawan Raja Kerajaan Blambangan Minakjingga. Sirianto bercerita, Damarwulan bersembunyi di Gua Kapur yang letaknya 175 KM dari pemandian air hangat. Di dalam gua terdapat kolam yang digunakan Damarwulan membasuh muka. Begitu juga dengan kolam Damarwulan, kata Sirianto, dipercaya sebagai tempat mandi Damarwulan.

Diantara tempat wisata itu, kita bisa menyaksikan para petani yang menanam kubis di halaman rumah mereka. Blawan yang terletak di ketinggian 900-1000 dari permukaan laut memang cocok menjadi tempat tumbuh kubis. Saat panen, petani biasa menjualnya di Bondowoso, Jember dan Situbondo. IKA NINGTYAS

Jalan Nostalgia Turis Eropa

Secangkir kopi robusta yang kutengguk, cukup menghangatkan tubuh di tengah gerimis. Hampir sejam, gerimis belum juga berhenti turun. Hawa dingin semakin menjadi-jadi, begitu aku menginjakkan kaki di Margo Utomo Agro Resort.

Setelah menengguk kopi dengan sedikit gula, giliran aku menyantap roti dengan keju mozarella. Kandungan susu sapinya cukup terasa di lidah. Tak hanya keju, di meja sudah terhidang aneka selai seperti selai pala dan nanas. Aku tergoda mencicipi selai pala berwarna merah marun. Rasanya cukup manis. Di kampungku, pala biasanya dijadikan manisan yang cukup alot di gigi. "Semuanya kita produksi sendiri, jadi lebih alami" kata Endang Mariyana, 56, Direktur Operasional Margo Utomo Agro Resort.



Menurut Endang menu tersebut, adalah menu favorit untuk sarapan para turis yang menginap di tempatnya. Hampir seluruh makanan dan minuman itu, memang diolah sendiri oleh karyawan. Bahkan bahan-bahannya, seperti tanaman kopi, pala, dan susu sapi juga diambil dari milik Margo Utomo.

Ya, pengelola kawasan wisata di Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, itu rupanya cukup jeli memanfaatkan peluang untuk menarik minat wisatawan. Disini, pengunjung bisa menyaksikan kebun mini yang menyimpan seratus lebih jenis tanaman, peternakan susu, termasuk pabrik-pabrik kecil pengolah berbagai makanan untuk konsumsi para tamu.

Margo Utomo Agro Resort adalah salah satu agrowisata di Kabupaten Banyuwangi. Terletak di ketinggian 480 dari permukaan laut, menjadikan wilayah ini cocok untuk perkebunan. Sejak zaman Belanda hingga kini, daerah di Kecamatan Kalibaru telah menjadi pusat perkebunan kopi, karet, coklat dan cengkeh.

Seusai menikmati sarapan, aku mengikuti rombongan 10 turis dari Belanda yang dibawa Sawadee Travel. Mereka menghabiskan tiga minggu untuk mengunjungi Yogyakarta, Gunung Merapi, Margo Utomo, dan terakhir, ke Bali. Di Margo Utomo mereka mengambil paket wisata ke kebun mini (mini plantation) yang dipandu Khairil, 41, seorang pemandu wisata yang fasih berbahasa Belanda. Ia juga merangkap koki dan bartender di Margo Utomo.

Perjalanan ke kebun mini itu ditempuh dalam dua jam. Letaknya persis di belakang hotel Margo Utomo. Mula-mula para turis itu diajak ke peternakan sapi perah. Margo Utomo memelihara 77 sapi perah. Dari peternakan itu, setiap harinya dihasilkan sekitar 600 liter susu sapi segar . Selain dikonsumsi sendiri, susu sapi dijual dalam kemasan setengah liter ke daerah Banyuwangi dan Bali. Dari susu tersebut kemudian diolah lagi menjadi keju mozzarella dan roti.

Berikutnya, para turis diajak melihat pembuatan gula merah tradisional. Gula ini dibuat dari kelapa yang puluhan pohonnya ditanam di kebun. Disitu dua orang nampak sibuk memanaskan wadah besar berisi air kelapa di atas kayu bakar. Cairan merah itu kemudian dituangkan dalam cetakan.



Dari pabrik pengolahan gula merah, para turis disambut dengan ratusan tanaman di atas lahan seluas sembilan hektar. Di sana ditanam, vanili, coklat, kelapa, kopi, karet, lada, pala, salak, karet, dan jenis pohon tinggi lainnya. Mengenal satu demi satu jenis pepohonan itu rupanya menjadi pengalaman pertama bagi turis. Tak henti-hentinya para bule itu terkaget-kaget dan histeris.

Aku juga ikut tergelak melihat reaksi mereka, ketika guide meminta mereka mengunyah buah merica. Sepintas, buah merica berwarna kehijauan itu mirip buah yang manis. Mereka berlomba-lomba memasukkan buah merica itu ke dalam mulut. Tak lama kemudian, mereka berteriak, “Ouw…paper.” Mereka meringis pedas, dan membuang seluruh isi mulut. Setelah mengerjai dengan merica, guide kembali bertanya dalam bahasa Belanda yang artinya kurang lebih begini: “Tahukah Anda dengan pohon kondom?” Semuanya saling menoleh, kemudian berseru, “Condom boom? Really?” Para bule kemudian melangkah setengah berlari mengikuti guide. Mereka pun tergelak begitu mengetahui kalau pohon kondom yang dimaksud adalah pohon karet.

Beberapa pohon seperti karet dan lada yang bukan bahan konsumsi utama, ditanam dalam jumlah sedikit. Menurut Khairil, pemandu wisata, pohon-pohon itu hanya untuk keperluan wisata bukan konsumsi. Umumnya turis tidak pernah mengetahui pohon aslinya meski sering mengkonsumsi. “Inilah paket yang kita jual untuk mereka,”

Mariama,46, salah satu turis dari Belanda mengatakan, di negeri asalnya bahan-bahan mulai vanili, lada, buah salak, kelapa, coklat, biasa mereka beli dari supermarket dalam wadah kaleng. “Kita tinggal mengkonsumsi saja,” katanya usai mengikuti tour di kebun mini.

Selain berbagai tanaman itu, Margo Utomo juga memiliki seratus lebih koleksi tanaman hias yang mereka tanam mulai halaman depan hingga ke area penginapan. Sebagian tanaman hias itu tergolong langka, seperti sambang darah (Excoecaria cochinencis), dinding ari (Hemigraphis colorata) dan ekor tupai (Wodyetia bifurcata).

Paket wisata lainnya yang biasa dinikmati para turis adalah keliling desa. Margo Utomo menyediakan fasilitas keliling desa ini dengan dokar dan kereta api mini. Dengan dokar, turis bisa menikmati pemandangan desa, sawah, dan pasar tradisional di sekitar Margo Utomo. Sedangkan dengan KA mini, perjalanan hanya menempuh sekitar 10 KM, dimulai dari Stasiun Kalibaru ke stasiun Garahan,Jember. KA mini tersebut menggunakan KA lori yang dimodifikasi sedemikian rupa, berkapasitas delapan orang.

Bagi para turis, konsep wisata demikian memang cukup diminati. Buktinya, Margo Utomo nyaris tak pernah sepi dari turis. Saat aku berkunjung Sabtu akhir pekan lalu, hunian 80 kamar penuh. Dibanjiri turis dari Belanda, Jerman, dan Amerika. Kelebihan lainnya karena Margo Utomo juga menyediakan paket wisata ke Gunung Ijen, Plengkung, dan penangkaran penyu Sukamade.

Namun wisatawan domestik juga sering mampir. Kalau tidak tertarik dengan tour kebun mini, biasanya turis lokal lebih memilih berarung jeram di aliran sungai belakang Margo Utomo 2. Sayangnya, aku tidak bisa menjajal tantangan berarung jeram ini karena arus sangat besar dan membahayakan. IKA NINGTYAS


Perintis Agro Wisata di Tanah Air
Margo Utomo berarti jalan utama. Nama ini dipakai turun temurun oleh keluarga besar H. Moestadjab (Alm) hingga kini. Pada tahun 1946, dia mewarisi 10 hektar lahan perkebunan kopi dan kelapa Margo Utomo dari kakeknya, Raden Mas Moestadjab. Selain perkebunan, tahun 1970, keluarga tersebut memulai usaha peternakan sapi perah dan produksi susu sapi.

Moestadjab mulai membangun kawasan agrowisata ini pada tahun 1972, sehingga tercatat sebagai perintis agrowisata di tanah air. Menurut Endang Mariana, 56, salah seorang anak Moestadjab, ayahnya memulai merintis dari dua kamar pribadinya. Ayahnya, kata Endang, melakoni sendiri mulai mempromosikan, mencari turis, dan menjadi guide. Perburuan turis tersebut, kata perempuan kelahiran Jember ini, sampai ke kota Yogyakarta. “Baru tahun 1979 ada turis mau datang,” kata ibu dua anak ini.





Perkembangan Margo Utomo semakin menggembirakan. Lalu mulailah dibangun kamar-kamar. Saat ini ada 50 kamar di Margo Utomo 1, yang letaknya persis di belakang stasiun Kalibaru. Berikutnya, tahun 1995 Moestadjab mengembangkan Margo Utomo 2 berjarak 3 KM arah selatan dengan 30 kamar. Arsitektur kamar bergaya kuno dengan jendela dan pintu bercorak arsitektur Belanda tetap dipertahankan hingga sekarang. Di dalam kamar, tidak ada fasilitas AC, teve maupun radio. Hanya ada internet gratis di ruang loby. “Disini tamu akan benar-benar beristirahat,” Ujar Endang.

Mulanya, para tamu didominasi turis Eropa, terutama Belanda. Mereka tertarik datang ke Kalibaru untuk bernostalgia karena pernah bekerja di perkebunan-perkebunan setempat. Atau juga untuk menyaksikan langsung tempat yang menjadi cerita dari nenek-kakek mereka. Lambat-laun tujuan turis datang mulai beragam, karena suka wisata alam. Tak hanya dari Belanda, turis Italia, Jerman, Perancis, dan Amerika Serikat tercatat pernah mampir di Margo Utomo.

Tapi tetap saja, napas obyek wisata ini masih bergantung dengan Bali. Karena kebanyakan, paket wisata Margo Utomo yang disediakan agen travel masih satu paket dengan wisata Bali. Para turis biasanya hanya menghabiskan dua malam di Margo Utomo, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Bali. Saat Bom Bali I, misalnya. Hampir setahun Margo Utomo tak beroperasi karena sepi dari turis. Seluruh usaha sampingan seperti produksi susu sapi juga loyo. “Untungnya sekarang sudah mulai penuh lagi,” ucap Endang. Dia bersyukur pula karena tragedy bom di Mega Kuningan Jakarta tak memengaruhi minat para turis mampir di tanah Margo Utomo. IKA NINGTYAS

Kemiren, Wajah Banyuwangi Tempo Dulu

Setelah 15 menit perjalanan dari Kota Banyuwangi, akhir pekan lalu, laju motor kuperlambat setiba di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Kebetulan sekali, di jalanan utama desa ini, aku berpapasan dengan arak-arakkan sunatan (khitanan) yang menanggap barong dengan iringan penabuh kuntulan.

Kusebut kebetulan karena tak setiap saat kita bisa menyaksikan kesenian yang sudah mentradisi di desa ini. Hanya saat ada hajatan kawinan, sunatan dan sehari setelah lebaran. Kondisi desa ramai menyeruak. Jalanan desa disesaki warga untuk menonton kesenian asli kemiren yang mengarak seorang bocah di atas kuda.

Di antara ratusan warga yang menonton kesenian itu, aku menyaksikan perempuan-perempuan tua masih berpakaian tradisional. Berkebaya dengan jarik bermotif batik gajah uling -khas Banyuwangi. Dari bibir mereka menyembul inang berwarna oranye. Meskipun jumlah mereka itu minoritas karena perempuan-perempuan mudanya sudah berpakaian lebih modern.




Aku juga menjumpai rumah-rumah yang mempertahankan khas Using. Terutama saat memasuki lorong-lorong desa. Berdinding bambu, dengan tipe atap yang berbeda antara teras, ruang tengah dan dapur. Corak rumah demikian ini disebut tikel balung, baresan, dan crocogan. Memang sebagian rumah lainnya, sudah mengikuti arsitektur masa kini berdinding tembok untuk menyesuaikan kebutuhan.

Berkunjung ke desa berpenduduk sekitar 3 ribu jiwa ini seolah-olah kita diajak melihat wajah Banyuwangi tempo dulu. Sejak 1989, desa ini ditetapkan sebagai desa wisata adat Using. Namun, Kemiren memang bukan sebuah desa yang masyarakatnya eksklusif atau menutup diri sebagaimana kalau kita menjumpai suku Badui atau Tengger. Di satu sisi, mereka sangat terbuka terhadap kemajuan jaman, seperti nampak pada cara berpakaian perempuan muda dan arsitektur rumah masa kini. Tapi di sisi lain, mereka cukup kukuh menjalankan tradisi nenek moyangnya, mulai hal paling kecil sampai yang sakral seperti perkawinan sekalipun.

Keunikan dan keasliaan budaya inilah yang menjadikan Kemiren berbeda dengan desa Using lainnya di Banyuwangi. Karena itu, mau tak mau untuk menikmati keunikan budaya di Kemiren, kita harus berinteraksi dengan masyarakatnya.

Kekayaan budaya yang dimiliki Desa Kemiren hampir terjadi di semua aspek kehidupan. Mulai bertani, berbahasa, perjodohan, adat pernikahan, sunatan, hingga kesenian. Hal yang paling remeh seperti kasur misalnya. Percaya atau tidak, seluruh keluarga di sini memakai kasur berwarna sama: hitam dan merah (kasur cemeng-abang). Kasur ini disiapkan mempelai perempuan menjelang pernikahan. Hitam melambangkan kelanggengan, dan merah symbol kesiapan menghadapi tantangan selama berumah tangga. “Nenek dulu pakai kasur seperti ini,” ujar Rajaonah, 43 tahun, yang juga menyiapkan kasur serupa untuk anak gadisnya.

Kesenian Kemiren, selain barong dan angklung juga hidup kesenian jaranan, kebo-keboaan, Mocoan lontar, hingga tari Gandrung. Tokoh terkenal penari Gandrung dari Kemiren adalah Temu, atau biasa dijuluki Gandrung Temu. Hingga kini ia masih aktif menari sembari mewariskan kepada anak-anak gadis di sekitarnya. Selain piawai menari gandrung, Temu juga menyanyi dengan suara khas Usingnya yang melengking tinggi.




Dalam bercocok tanam, masyarakat Kemiren menggelar tradisi selamatan saat menanam benih, saat padi mulai berisi, hingga panen. Saat masa panen tiba, petani menggunakan ani-ani diiringi tabuhan angklung dan gendang yang dimainkan di pematang-pematang sawah. Saat menumbuk padi, para perempuan memainkan tradisi gedhogan, yakni memukul-mukul lesung dan alu sehingga menimbulkan bunyi yang enak didengar.

Salah satu upacara perkawinan yang digelar masyarakat Kemiren adalah tradisi perang bangkat saat mengawinkan anak bungsu. Perang yang dimaksud adalah perang mulut antara pihak mempelai pria dan wanita menjelang upacara dipertemukannya pasangan pengantin. Upacara ini menjadi simbol betapa tidak mudah dan banyak persyaratan yang diperlukan untuk meminang sang gadis.

Perjalanan ke Desa Kemiren kurang lengkap tanpa mengunjungi makam Buyut Cili, sekitar setengah kilometer dari desa. Setiap Jumat atau Senin, makam itu disesaki warga Kemiren yang menggelar selamatan dengan berbagai makanan khas seperti pecel ayam. Menurut Serad, 69 tahun, tetua desa, Buyut Cili dipercaya sebagai penghuni pertama yang membuka Desa Kemiren. Warga yang akan menggelar hajatan seperti perkawinan, sunatan, atau bernadhar, kata Serad, harus menggelar selamatan di makam. “Kalau tidak, anggota keluarga ada yang sakit,” ujarnya.

Berbagai hasil kebudayaan Desa Kemiren,bisa kita saksikan dari koleksi Pak Sae yang diwarisinya secara turun temurun. Mulai arsitektur rumah, perabot, meja-kursi kuno, alat-alat pertanian, hingga kasur hitam-merah berusia ratusan tahun masih tersimpan rapi dalam rumahnya yang terletak di jantung desa. Bila melongok ke buku tamu, tercatat ratusan turis baik untuk kepentingan wisata atau penelitian telah mengunjungi museum pribadi ini. IKA NINGTYAS


Berakhir di Kolam Renang
Nenek moyang masyarakat Desa Kemiren dipercaya berasal dari Cungking, sekitar 10 menit dari Kemiren yang kini jadi desa kota. Mulanya, Desa Kemiren adalah hutan belukar yang tak bernama. Menurut Serad, 69 tahun, tetua desa, perkembangan penduduk yang padat membuat sebagaian warga Cungking yang beragama Hindu itu terdesak ke Kemiren. Saat membabat hutan, banyak ditemukan pohon kemiri dan duren, yang kemudian tempat itu disebut Kemiren (singkatan kemiri-duren).





Menurut Serad, pohon kemiri dan duren masih banyak dijumpai. Bahkan di belakang rumah Serad, tumbuh pohon durian berusia ratusan tahun. Uniknya, durian ini berwarna merah, bukan kuning seperti biasanya. Ukurannya juga lebih besar. Durian merah yang biasa dijual Rp 50 ribu ini banyak diburu orang, karena dipercaya bisa menyembuhkan penyakit dan penambah keperkasaan lelaki.

Saat perpindahan tempat itu, kata Serad, budaya asli masih terus digelar oleh masyarakat Kemiren. Tradisi barong, jaranan, gandrung dan selamatan yang semula bercorak Hindu, berakulturasi dengan Islam begitu agama ini masuk dan dianut seluruh warga desa. “Budaya kami tak pernah mati,” katanya, Sabtu akhir pecan lalu.

Setelah ditetapkan menjadi Desa Wisata Using, tahun 1995 Bupati Purnomo Sidik membangun anjungan wisata yang terletak di utara desa. Anjungan yang berdiri di atas lahan 2,5 hektar ini dibangun dengan biaya Rp 4 miliar. Anjungan ini dikonsep menyajikan miniatur rumah-rumah khas Using, mempertontonkan kesenian warga setempat, dan memamerkan hasil kebudayaan.

Namun, rupanya konsep ini tak berjalan baik. Miniatur-miniatur rumah teronggok begitu saja. Tontonan hanya disajikan bila ada tamu yang meminta. Akhirnya pada 2002, pengelola anjungan wisata ini diserahkan ke pihak ketiga. Renovasi dilakukan besar-besaran ditambah dua kolam renang di tengah arena untuk menarik minat pengunjung.

Dengan tiket masuk Rp 5 ribu per orang, aku bisa berenang sepuasnya sambil menikmati enam miniatur rumah yang mengelilingi kolam. Lagu-lagu Using Banyuwangi, yang dinyanyikan lusinan penyanyi lokal disetel melalui pengeras suara. Kalau lapar, aku tinggal menyantap rujak soto, -makanan khas, yang dijual di depot pinggir kolam. IKA NINGTYAS