Friday, February 26, 2016

Englishphobia

Telepon sore hari di pertengahan Februari lalu, membuat saya panas dingin. Telepon dari seorang kawan itu mengabarkan jika saya diminta mengikuti workshop jurnalisme investigasi di Jakarta selama tiga hari. Sebenarnya sudah puluhan workshop saya ikuti. Tapi yang membuat kali ini panas karena trainernya bule, tanpa transletor dan peserta wajib presentasi dalam bahasa Inggris. Oh God! Tentu saja saya panik, karena kemampuan bahasa Inggris masih acakadut.

Thursday, January 21, 2016

Mengincar Dolar dari Kapal Pesiar


Rencana pembangunan Marina Banyuwangi, sumber: PT Pelindo Properti Indonesia


Kesibukan terjadi setiap hari di sisi barat Pantai Boom. Puluhan pekerja tampak menata pavingblock di sekujur pasir pantainya. Ada ratusan truk lalu-lalang mengirimkan bongkahan-bongkahan batu. Di bibir pantai, sebuah alat berat menata batu-batu itu memanjang hingga ke arah laut. “Kami sedang membangun dermaga sepanjang 100 meter,” kata Aman Priyantono, mandor proyek kepada Tempo, 23 Oktober 2015.

Dermaga tersebut bagian dari rencana pembangunan Pelabuhan Marina Banyuwangi yang diinisiasi PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) melalui anak perusahaannya, PT Pelindo Properti Indonesia. Proyek yang menggandeng Pemerintah Banyuwangi itu resmi dimulai 12 September 2015.

Kisah Pilu Bocah HIV/AIDS

Sumber gambar: penyakithivaids.com
Banyuwangi - Pintu dan daun jendela rumah itu lebih banyak tertutup. Udara keluar-masuk hanya dari ventilasi sempit di atas pintu. Lembab menyergap begitu memasuki rumah berdinding bata ini. Hampir di semua sudut tembok, sarang laba-laba menjuntai. Debu-debu menyesaki kursi dan lantai.

Sebuah televisi 21 inci menyala di kamar tengah, Rabu siang, 24 Juni 2015. Seorang bocah memelototi tabung berwarna tersebut sambil merebahkan tubuh kecilnya di kasur. Sebuah boneka kumal berada dalam pelukannya. Bagi Yani, bocah delapan tahun itu, televisi adalah dunianya setiap hari.

Durian Merah untuk Apartemen

Bibit durian merah yang bisa ditanam di apartemen
Seratusan bibit pohon durian merah itu berjejer di dalam kios UD Agro Banyuwangi, Jalan Brawijaya. Di bawah jaring pelindung matahari, tinggi bibit berusia setahun itu rata-rata mencapai  satu meter. Samsul Hadi, si perawat tanaman, menyiraminya rutin dua kali sehari: pagi dan sore. Dengan telaten dia juga memeriksa keberhasilan sambung di setiap dahan bibit itu.

Bibit-bibit pesanan salah satu pebisnis asal Jakarta itu bukan bibit durian merah biasa. Harga satu bibit membuat siapa pun tercengang: Rp 2,5 juta. “Kami menerima pesanan 400 bibit, tapi baru selesai 100 bibit,” ujar Samsul kepada Tempo, Selasa 25 Agustus 2015.

Jalan Terjal IKM Mengurus Legalitas Kayu

Art shop milik UD Oesing Craft Banyuwangi
Suara mesin kayu menderu-deru di bengkel UD Oesing Craft, Banyuwangi, Jawa Timur. Di depan mesin yang berputar cepat itu, Sholah merapatkan sebuah mangkuk dari kayu saman. Hanya mengenakan masker, pemuda itu mengabaikan serbuk kayu yang berterbangan di depan matanya. Kurang dari lima menit, seluruh permukaan mangkuk yang tadinya kasar, kini telah halus.

Setiap harinya, Sholah harus menghaluskan 150 mangkuk kayu berukuran genggaman tangan orang dewasa itu. Selain Sholah ada 19 perajin kayu lainnya yang berkutat dengan tugasnya masing-masing di bengkel UD Oesing Craft, Jl Brawijaya, pertengahan Agustus 2015. “Satu mangkuk saya dibayar Rp 450,” kata Sholah yang sudah bekerja selama 1,5 tahun.